Lestarii
Kamis, 09 Maret 2023
A Masterpiece of Environmentalist : Poster (3)
Sabtu, 25 Februari 2023
PERBURUAN SATWA LIAR
PERBURUAN SATWA LIAR
Jumat, 24 Februari 2023
INTRODUKSI EKSOTIK DAN PENGENDALIAN SPESIES EKSOTIK (KONYAL)
INTRODUKSI EKSOTIK DAN PENGENDALIAN SPESIES EKSOTIK (KONYAL)
Indonesia merupakan negara dengan tingkat keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, yang ditandai dengan ekosistem, jenis dalam ekosistem, dan plasma nutfah (genetic) yang berada di dalam setiap jenisnya. Dengan demikian, Indonesia menjadi salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia dan dikenal sebagai negara mega-biodiversity. Keanekaragaman hayati yang tinggi tersebut merupakan kekayaan alam yang dapat memberikan manfaat yang vital dan strategis, sebagai modal dasar pembangunan nasional, serta merupakan paru-paru dunia yang mutlak dibutuhkan, baik dimasa kini maupun yang akan datang.
Namun demikian Indonesia juga merupakan negara dengan tingkat keterancaman lingkungan yang tinggi, terutama terjadinya kepunahan jenis dan kerusakan habitat yang menyebabkan menurunnya keaneka ragaman hayati, Hal ini disebabkan karena proses pembangunan, dimana jumlah penduduk yang besar dan terus bertambah menyebabkan kebutuhan dasar pun semakin besar, sehingga sering terjadi perubahan fungsi areal hutan, sawah dan kebun rakyat baik oleh pemerintah maupun swasta. Keadaan demikian menyebabkan menyusutnya keanekaragaman hayati dalam tingkat jenis. Ketika pembangunan pemukiman, perkantoran, dan industri berjalan dengan cepat, secara bersamaan terjadi penurnan populasi jenis tumbuhan, hewan dan mikroba. Maka dari itu Indonesia merupakan salah satu wilayah prioritas konservasi keanekaragam hayati dunia.
Introduksi spesies adalah berpindahnya suatu jenis mahluk hidup dari habitatnya ke habitat lain. Berpindahnya mahluk hidup tersebut dapat secara sengaja ataupun secara tidak sengaja. Introduksi spesies adalah usaha sadar atau tidak sadar memasukkan suatu jenis hewan atau tumbuhan ke dalam satu habitat yang baru. Spesies eksotik adalah suatu spesies yang sengaja atau tidak sengaja diangkut dan dilepaskan oleh manusia ke lingkungan luar dari daerah asalnya. Spesies eksotik dapat didefinisikan sebagai organisme apa pun yang kebetulan hidup di luar jangkauan sebaran alaminya sebagai akibat dari aktivitas antropogenik, atau aktivitas melalui introduksi secara sengaja atau tidak sengaja ke habitat baru.
Konyal merupakan salah satu jenis tumbuhan eksotik yang bersifat invasive di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Konyal memiliki karakteristik yang menonjol, yaitu mudahnya pertumbuhan awal dari tumbuhan tersebut tidak hanya dari biji, melainkan dari batang dan akar. sifat konyal yang yang cepat memberi naungan pada tumbuhan yang dirambatinya menyebabkan kematian bagi tumbuhan tersebut. Selain itu konyal tumbuh dan menyebar dengan sangat cepat, menyebabkan terganggunya pertumbuhan jenis lokal di kawasan ini. Konyal di kawasan ini menjadi ancaman bagi jenis-jenis tumbuhan lokal TNGGP dan keberadaannya perlu diwaspadai dan dikendalikan.
Pemetaan sebaran konyal (Passiflora suberosa L) dapat menjadi salah satu upaya prefentif untuk menjadi acuan dalam melakukan pengendalian konyal di area prioritas. Keberadaan konyal di RPTN Mandalawangi dapat diketahui melalui terestrial survey, yaitu dengan metode marking koordinat di lapangan menggunakan GPS dan kompas serta identifikasi citra satelit. Untuk mengetahui kesesuaian habitat konyal maka dapat dilakukan dengan metode overlay peta klasifikasi jenis tanah, curah hujan, tutupan lahan, dan peta kelerangan dengan peta sebaran konyal. Dari keseluruhan data yang didapat kemudian di analisis menggunakan SIG yang kemudian menghasilkan output peta sebaran konyal (Passiflora suberosa L) yang diharapkan dapat menjadi acuan dalam melakukan kegiatan pengendalian konyal di area prioritas.
Dapat dilihat pada gambar, bahwa sebaran konyal yang sangat rapat adalah berada di kawasan hutan jalur interpretasi ciwalen, yaitu pada titik koordinat Lat -6.7459 Long 107.0033 dengan ketinggian 1.463 mdpl dengan klasifikasi hutan sub montana (700- 1500 mdpl). kawasan hutan pada jalur ini memiliki sebaran konyal (Passiflora suberosa L) yang paling padat. Hal ini dikarenakan lokasi ini merupakan lokasi bervegetasi jarang dan tutupan tajuk yang tidak terlalu rapat, sehingga konyal dapat tumbuh dan menyebar secara maksimal karena lokasi tersebut merupakan lokasi dengan intensitas sinar matahari yang cukup tinggi.
Hasil observasi yang dilakukan pada lokasi ini, terdapat satwa yang mudah ditemui mengingat konyal (Passiflora suberosa L) merupakan salah satu pakan dari beberapa satwa di kawasan ini, hal ini dapat menjadi salah satu faktor konyal (Passiflora suberosa L) menyebar dengan sangat cepat. Jalur interpretasi ciwalen merupakan salah salah satu lokasi yang banyak dikunjungi oleh wisatawan, hal ini sangat memungkinkan menjadi salah satu faktor menyebarnya konyal (Passiflora suberosa L). (Passiflora suberosa L) yang cukup rapat. Vegetasi pada lokasi ini merupakan kawasan bervegetasi jarang dengan tutupan tajuk yang tidak terlalu rapat, sehingga konyal (Passiflora suberosa L) dapat secara maksimal tumbuh dan menyebar di lokasi tersebut. pada lokasi ini, konyal banyak tumbuh di area sekitar jalur. Hal ini dikarenakan area jalur cibeureum merupakan lokasi yang cukup terbuka dan tutupan tajuk yang kurang rapat.
Sama halnya dengan jalur interpretasi ciwalen, jalur air terjun cibeureum merupakan salah satu lokasi yang 7 banyak dikunjungi oleh wisatawan dan menjadi jalur untuk pendakian. Hal ini menjadi salah satu faktor menyebarnya konyal di area tersebut. satwa menjadi salah satu faktor dalam menyebarnya konyal (Passiflora suberosa L). Karena pada jalur tersebut banyak terdapat kotoran satwa yang masih berbentuk biji konyal (Passiflora suberosa L). Dan lokasi ketiga adalah kawasan hutan bumi perkemahan (buper) mandalawangi. Sebaran konyal (Passiflora suberosa L) di Buper mandalawangi dapat ditemui di beberapa titik, salah satunya pada koordinat Lat -6.7352 Long 107.0026 dengan ketinggian 1.337 mdpl. lokasi tersebut merupakan lokasi dengan sebaran konyal (Passiflora suberosa L) tidak rapat. Hal ini dikarenakan lokasi tersebut merupakan lokasi dengan vegetasi yang rapat dan tutupan tajuk yang cukup padat. Dengan kondisi vegetasi rapat dan tutupan tajuk yang padat menyebabkan lokasi tersebut merupakan lokasi dengan intensitas matahari sedikit sehingga konyal (Passiflora suberosa L) tidak dapat tumbuh secara maksimal. Kawasan hutan buper mandalawangi merupakan lokasi yang jarang dikunjungi wisatawan, dan pada lokasi ini juga jarang ditemukan adanya satwa. Hal ini menjadi salah satu faktor konyal (Passiflora suberosa L) tidak dapat menyebar dengan maksimal. Dan pada ketinggian 2000 mdpl pada hm 24 tidak terlihat sebaran konyal. Hal ini dikarenakan pencegahan yang telah dilakukan, untuk mencapai tujuan dengan strategi yang efektif dan tepat sasaran.
Penulis: Muhammad Fauza Nur (Caman RDA)
Editor: Putri Armenia Urelia (Mrende RBS)
Kamis, 23 Februari 2023
A Masterpiece of Environmentalist : Poster (2)
POSTER
A Masterpiece of Environmentalist : Poster
POSTER
RISET ENVIRONTMENTALIST; MANGROVE
HUTAN MANGROVE: PENGERTIAN, CIRI-CIRI, FUNGSI, DAN POTENSI
Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai luasan hutan mangrove terbesar di dunia. Fungsi hutan mangrove tidak hanya mencegah abrasi, tetapi bermanfaat untuk kehidupan sosial-ekonomi masyarakat
Pengertian Hutan Mangrove
Hutan mangrove adalah jenis hutan yang terdiri atas formasi dari tumbuhan yang spesifik, dan umumnya dijumpai tumbuh dan berkembang pada kawasan pesisir yang terlindung di daerah tropika dan subtropika. Kata mangrove sendiri berasal dari perpaduan antara bahasa Portugis yaitu mangue, dan bahasa Inggris yaitu grove. Dalam bahasa Portugis, kata mangrove dipergunakan untuk individu jenis tumbuhan, dan kata mangal dipergunakan untuk komunitas hutan yang terdiri atas individu-individu jenis mangrove.
Hutan mangrove di Indonesia sekitar 8,6 juta hektar, terdiri atas 3,8 juta hektar di dalam kawasan hutan dan 4,8 juta hektar di luar kawasan hutan. Hutan mangrove menjadi salah satu subjek utama bagi pengembangan lingkungan di Indonesia. Banyak lembaga sosial yang bergerak dalam bidang lingkungan terus mensosialisasikan manfaat mangrove. Kondisi ini mendukung kesadaran masyarakat bahwa mangrove memang penting untuk melindungi lingkungan. Pelestarikan kawasan mangrove adalah usaha yang sangat baik untuk menstabilkan kondisi lingkungan dan menyelamatkan semua habitat di hutan mangrove.
Ciri-ciri Hutan Mangrove
Setiap jenis hutan tentulah berbeda antara satu dengan yang lainnya. Jika suatu hutan tidak berbeda satu dengan yang lainnya, tentu tidak akan ada jenis- jenis hutan. Beberapa karakteristik atau ciri- ciri yang dimiliki oleh hutan mangrove ini antara lain adalah sebagai berikut:
1. Didominasi oleh tumbuhan mangrove atau tumbuhan bakau, yakni tumbuhan yang mempunyai akar mencuat ke permukaan,
2. Tumbuh di kawasan perairan payau, yakni perairan yang terdiri atas campuran air tawar dan air asin,
3. Sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut,
4. Keberadaannya terutama di daerah yang mengalami pelumpuran dan juga terjadi akumulasi bahan organik,
5. Seringkali termasuk jenis hutan homogen karena tumbuhan yang hidup relatif berasal dari genus yang sama.
Fungsi Hutan Mangrove
Selain memiliki beragam manfaat, hutan mangrove ternyata mempunyai fungsi yang krusial bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat sekitar hutan. Berikut ini penjelasan fungsi-fungsi hutan mangrove antara lain yaitu:
A. Fungsi Fisik
1. Menjaga garis pantai agar tetap stabil. Melindungi pantai dan sungai daerah erosi dan abrasi.
2. Menahan angin kencang dari laut.
3. Menahan proses penimbunan lumpur.
4. Menjaga wilayah penyangga dan menyaring air laut menjadi air tawar di daratan.
5. Mengolah limbah beracun, menghasilkan oksigen, dan menyerap karbon dioksida.
B. Fungsi Biologis
1. Menghasilkan bahan pelapukan yang menjadi sumber makanan bagi plankton sehingga dapat menunjang rantai makanan.
2. Tempat memijah dan berkembang biak ikan, kerang, kepiting, dan udang.
3. Tempat berlindung, bersarang, dan berkembang biak burung atau satwa lain.
4. Sumber plasma nutfah dan sumber genetik. Habitat alami bagi berbagai jenis biota.
C. Fungsi Ekonomi
1. Menghasilkan kayu untuk bahan bakar, arang, dan bahan bangunan.
2. Menghasilkan bahan baku industri seperti pulp, tanin, kertas, tekstil, makanan, obat-obatan, kosmetik, dan lain sebagainya. Menghasilkan bibit ikan, nener, kerang, kepiting, dan berbagai biota lain.
3. Tempat wisata, penelitian, dan pendidikan
Potensi Hutan Mangrove Sebagai Kawasan Ekowisata
Hutan mangrove dapat dijadikan area pariwisata apabila memberikan nilai ekonomi dalam kegiatan ekosistem di dalam lingkungan yang dijadikan sebagai obyek wisata, menghasilkan keuntungan secara langsung untuk pelestarian lingkungan, memberikan keuntungan secara langsung dan tidak langsung bagi para stakeholders, membangun konstituensi untuk konservasi secara lokal, nasional dan internasional, mempromosikan penggunaan sumber daya alam yang berkelanjutan, dan mengurangi ancaman terhadap kenekaragaman hayati yang ada di obyek wisata tersebut. Mangrove sangat berpotensi sebagai tempat berpariwisata di pinggir pantai. Mangrove dapat dijadikan sarana edukatif dan sarana pariwisata melalui fungsinya selain menahan ombak namun juga dapat menjadi habitat para hewan perairan. Mangrove berpotensi menjadi sarana ekowisata dimana pada wisata ini bertujuan untuk melestarikan mangrove itu sendiri yang berupa konservasi lingkungan juga terdapat manfaat secara ekonomi.
Hutan mangrove dapat dijadikan ekowisata apabila memenuhi beberapa syarat, kriteria penilaian dapat dijadikan pedoman dalam ekowisata seperti ketebalan dan kerapatan pohon, jenis flora atau fauna mangrove, dan kisaran pasang surut. Selain itu juga harus memberi nilai ekonomi dalam kegiatan ekosistem di lingkungan obyek wisata; menghasilkan keuntungan secara langsung untuk pelestarian lingkungan dan tidak langsung bagi para stakeholders; membangun konstituensi untuk konservasi secara lokal, nasional dan internasional; mempromosikan penggunaan sumber daya alam yang berkelanjutan; dan mengurangi ancaman terhadap kenekaragaman hayati yang ada di obyek wisata tersebut.
Fakta Menarik Hutan Mangrove
Jenis tumbuhan mangrove mampu tumbuh dan berkembang pada lingkungan pesisir yang berkadar garam sangat ekstrim, jenuh air, kondisi tanah yang kurang stabil dan anaerob. Dengan kondisi lingkungan tersebut, beberapa jenis tumbuhan mangrove mampu mengembangkan mekanisme yang memungkinkan secara aktif untuk mengeluarkan garam dari jaringan.
Sementara itu, organ yang lainnya memiliki daya adaptasi dengan cara mengembangkan sistem akar napas untuk memperoleh oksigen dari sistem perakaran yang hidup pada substrat yang anaerobik. Disamping itu, beberapa jenis tumbuhan mangrove seperti Rhizophora sp., Bruguiera sp., Avicennia sp. dan Ceriops sp. mampu berkembang dengan menggunakan buah (propagul) yang sudah berkecambah sewaktu masih menempel pada pohon induknya atau disebut sebagai vivipar. Tumbuhan tersebut pun mampu hidup pada lingkungan dengan salinitas (kadar garam) tinggi. Avicennia merupakan jenis yang mampu hidup bertoleransi terhadap kisaran salinitas yang sangat besar. Selain, hutan ini menjadi tempat hidup, flora, terdapat pula keanekaragaman fauna di dalamnya yaitu kepiting, ikan, jenis Molusca, dan lain-lain.
Penulis: Helsen Hasundungan Hutabarat (Gerama RDA)
Editor: Putri Armenia Urelia (Mrende RBS)
Rabu, 22 Februari 2023
ENVIRONMENTALIST OPINION: MITELA (2)
MITELA RIMBAPALA
Mitela merupakan kain segitiga maupun segiempat yang terdapat logo atau lambang organisasi yang bersangkutan. Warnanya pun bisa beragam, tergantung pilihan suatu organisasi yang akan memakainya. Mitela merupakan atribut yang tidak asing lagi bagi anggota organisasi pecinta alam. Sebab, benda ini yang selalu menemani dan melekat pada diri khususnya pada saat melaksanakan kegiatannya. Bahkan, sudah menjadi aturan agar atribut ini dipakai pada saat ada acara atau kegiatan penting, serta tidak diperbolehkan memakainya diluar kegiatan. Bagi seorang pecinta alam Mitela mempunyai arti dan nilai penting serta harga yang tidak bisa diukur dengan uang dan materi atau dengan apapun. Karena untuk memperolehnya membutuhkan pengorbanan dan perjuangan keras yang menguras tenaga, fikiran, mental, serta bercucuran air mata.
Rimbapala memiliki mitela yang berwarna biru dongker dan segitiga sama kaki dengan ukuran sisi datar 132 cm, sisi miring 84 cm, dan tinggi 52 cm. Warna biru dongker tersebut mengandung makna kesederhanaan. Tidak seperti pada mahasisa pecinta alam lain, di Rimbapala mitela hanya dapat dikenakan di bahu. Anggota yang menggunakan mitela adalah anggota yang telah lulus diklatsar Rimbapala. Mitela anggota muda bertuliskan Rimbapala Rimbawan Pecinta Alam. Sedangkan mitela anggota biasa bertuliskan Rimbapala Rimbawan Pecinta Alam dan disertai lambang Rimbapala.
Mitela Rimbapala sudah ada sejak angkatan pertama, yaitu angkatan Rimbapala Gerobak Pasir. Di Rimbapala dilakukan tradisi penyematan mitela kepada anggota baru dihari terakhir diklatsar. Dan hal tersebut dilakukan secara turun-temurun sampai pada saat ini. Setiap anggota Rimbapala harus memaknai arti penting dari mitela itu sendiri, serta menganggap mitela sebagai nyawa karena mitela tersebut didapat ketika anggota lahir di Rimbapala
Pada umumnya, mitela di kalangan mahasisa pecinta alam ada yang berbentuk segitiga dan segiempat. Di Rimbapala sendiri mitela berbentuk segitiga, mengapa demikian? Berdasarkan sumber yang didapatkan dari beberapa anggota Rimbapala, bentuk segitiga mitela tersebut menganut dua konsep. Pertama, konsep religius dan yang kedua konsep survival. Konsep religius yang ditanamkan yaitu, pada mitela terdapat tiga pola arah yang berhubungan. Hubungan yang terpola tiga arah, yaitu hubungan dengan Tuhan sebagai makhluk ciptaan-Nya, hubungan dengan manusia sebagai makhluk sosial, dan hubungan dengan alam semesta sebagai mahkluk Allah yang mengatur, memanfaatkan kekayaan alam. Hubungan tersebut tidak dapat dipisahkan dan akan selalu berkesinambungan.
Konsep yang kedua, yaitu konsep survival. Mitela dalam dunia kesehatan digunakan sebagai bahan pembalut bagian tubuh yang terluka. Kenapa bentuknya segitiga, karena akan berfungsi untuk membalut bagian tubuh yang berbentuk bulat dan dapat digunakan untuk menggantung lengan yang cedera. Nah, kegiatan mahasisa pecinta alam saat terjun ke lapangan tidak selalu mulus dan bisa terjadi kecelakaan kecil maupun besar. Jadi jika dalam keadaan darurat atau terdesak, mitela dapat dimanfaatkan seperti hal-hal tersebut agar dapat mengatasi atau mengurangi cedera yang terjadi.
Mitela lebih dari sekedar penghargaan yang dijadikan sebagai tanda seseorang telah resmi atau lulus menempuh proses Pendidikan dan Latihan Dasar (DIKLATSAR), selama beberapa hari atau minggu, bahkan bulan. Dan kemudian Mitela tersebut dijadikan sebagai atribut dan dipakai pada saat menghadiri atau melakuakan acara-acara atau kegiatan-kegiatan yang dianggap penting. Yang harus diutamakan anggota organisasi pecinta alam untuk dijaga, ditinggikan dan disucikan.
Inilah tujuan dasar pelaksanaan Diklatsar bagi calon anggota organisasi pecinta alam. Diberikan bimbingan dan pedidikan jasmani maupun rohani, serta melatih ketahanan fisik dan mentalnya. Dengan demikian, melalui bimbingan, pendidikan dan pelatihan tersebut, diharapkan bisa melahirkan sosok-sosok pecinta alam yamg memiliki sikap relegius tinggi dan tangguh dalam menjaga dan melestarikan alam ini. Dan akan menjadi contoh yang baik dilingkungan masyarakat, khusunya dilingkungan sesama pecinta alam.
Penulis: Helsen Hasundungan Hutabarat (Gerama RDA)
Editor: Putri Armenia Urelia (Mrende RBS)
-
1. GEMPALS-PTKI GEMPALS merupakan salah satu MAPALA yang terletak di Provinsi Sumatera Utara kota Medan di bawah naungan Kampus ...
-
GMPA (Gema Mahasiswa Pencinta Alam) berdiri pada 15 Oktober 1991 yang pada tahun 2017 kini diketua oleh abangda Yasia siregar (Juma). K...
-
RIMBAPALA SEBAGAI WADAH MAHASISWA FAKULTAS KEHUTANAN USU DALAM MENJAGA KELESTARIAN LINGKUNGAN Sebelum menelisik lebih jauh mengenai Rimbapa...






























.png)