Lestarii

Sabtu, 18 Februari 2023

ENVIRONMENTALIST STUDENT ACTIVITIES

 KEGIATAN-KEGIATAN MAHASISWA PECINTA ALAM

Jika membahas tentang kepecintaalamn ini pastinya tidak jauh kaitannya dengan “Pecinta Alam”. Dalam kata pecinta alam diawali dengan kata “cinta” yang diartikan sebagai rasa suka atau cinta dan rasa ingin menjaga atau melindungi. Mencintai alam bukan hanya sekedar mengagumi, bukan hanya sekedar untuk kesenangan diri tetapi juga mengandung arti kagum, hormat, perasaan dan niat untuk memelihara serta mempertahankan keasrian alam. Sedangkan untuk kata pecinta sendiri lebih merujuk kepada seseorang/pelaku. Kata “alam” dapat diartikan sebagai isi dari bumi kita ini. Jadi dapat dikatakan bahwa pecinta alam adalah orang yang mencintai alam, memiliki rasa untuk menjaga kelestarian alam dan orang – orang yang sangat senang bermain di alam bebas. 

Dalam kepecintaalaman pastinya tidak lepas dari kegiatan – kegiatan yang dilakukan di alam bebas seperti halnya;

1. Kegiatan Mendaki Gunung 

Kegiatan ini sangat terkenal di kalangan pecinta alam maka tidak heran jika mendaki gunung ini seperti kegitan wajib yang dilakukan para pecinta alam. Pada pendakian gunung ini kita tidak hanya disuguhkan dengan indahnya pemandangan alam yang terbentang luas, tetapi kita juga mendapatkan pengalaman yang luar biasa seperti rasa kebersamaan dan kerjasama tim yang baik. 

2. Panjat Tebing 

Kegiatan ini merupakan kegiatan yang terbilang cukup ekstrim karna kita harus menaklukkan medan tebing yang curam dan harus tepat dalam mengambil langkah. Tetapi hal itu tidak mengurungkan niat para pecinta alam untuk melakukan kegitan tersebut, dan bahkan ada juga yang melakukan perlombaan panjat tebing. 

3. Susur Goa 

Susur goa merupakan kegiatan pengamatan atau menjelajahi bagian dalam gua. Dalam penyusuran goa tentunya kita mendapatkan pengalaman yang baru dan bahkan tanpa kita duga ditempat yang gelap itu dapat kita temui tempat yang indah dan tentunya juga kita bisa sambil belajar tentang ekosistem di dalam goa. 

4. Arung Jeram 

 Arung jeram ini merupakan kegiatan yang mengasikan sekaligus menantang karena kita mengarungi alur sungai yang arus airnya deras menggunakan alat seperti perahu karet. Di era sekarang sudah banyak di buka wisata – wisata arung jeram. 

5. Camping 

Istilah camping pastinya tidak asing lagi di telinga kita, camping merupakan kegiatan yang menyenangkan dan tentunya dapat menghilangkan penat dari kesibukan kita sehari-hari. 

6. Penghijauan 

Penghijauan atau penanaman pastinya sering dilakukan oleh pecinta alam, karena pecinta alam adalah orang – orang yang memiliki rasa tanggungjawab untuk menjaga kelestarian lingkungan. Penghijauan ini juga tentunya sangat bermanfaaat dan dapat mengurangi dampak pemanasan global. 

7. Membersihkan Sampah Plastik 

Hal ini terkesan membosankan dan kuno tetapi kegiatan ini merupakan salah satu bentuk paling nyata dalam mewujudkan kecintaan terhadap lingkungan. Seperi yang kita tahu Negara kita merupakan salah satu Negara penyumbang sampah terbesar, sehingga tidak heran banyak lingkungan kita yag telah tercemar dan kejadian - kejadian seperti di temukannya sampah plastik di perut ikan dan hal – hal lain yang berdampak negatf. Membersihkan sampah plastik dapat menjadi salah satu cara untuk membantu memulihkan lingkungan hidup.

Kegiatan-kegiatan di atas tentunya perlu didukung dengan pengetahuan dan kegiatan penunjang seperti pengetahuan tentang orientasi medan (navigasi), pengetahuan survival, keterampilan tali-temali, pengepakan peralatan, penguasaan pertolongan pertama. Maka dari itu banyak juga organisasi-organisasi pecinta alam yang memberikan materi-materi dasar kepada setiap anggotanya.

Penulis: Jeni Mei Yanda Sirait (Radika RDA)

Editor: Putri Armenia Urelia (Mrende RBS)

Jumat, 17 Februari 2023

Penanaman Pohon di Fakultas Kehutanan untuk Memperingati Hari Bumi 2022

 

 PENANAMAN DALAM RANGKA HARI BUMI DI FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Pada Jum’at, 22 April 2022 yang merupakan Hari Bumi Sedunia, Pema Fakultas Kehutanan USU mengadakan penanaman pohon di Fakultas Kehutanan USU. Pihak Pema mengundang UKM-UKM yang berada di fakultas kehutanan untuk mensukseskan acara yaitu Rimbapala, Himas, Rainforest, BKM Baytulasyjaar, KMK USU, dan MPM Fahutan USU.

UKM tersebut berpartisipasi dalam pengambilan bibit dan pembuatan lubang tanam yang berjumlah 15 lubang sedalam kurang lebih 20 cm, dan lebar kurang lebih 10 cm.

Pada keesokan harinya, Sabtu 23 April 2022. Pema memulaikan acara pertama pada pukul 08.00 AM yaitu seminar yang berjudul "Kuliah Umum Hari Bumi Sedunia Ekonomi dan Lingkungan’’ dengan pemateri dari dosen Fakultas Kehutanan USU yaitu Bapak Onrizal S. Hut, M. Si, Ph. D dengan bagian materi berjudul "Definisi Ekonomi dan Lingkungan serta Dampak Baik Buruk jika Mempriotaskan Lingkungan"; Bapak Dr. Oding Affandi S. Hut., M P. dengan bagian materi berjudul "Keterkaitan Ekonomi dan Lingkungan serta Sikap Rimbawan Muda"; dan Bapak Denizen Banurea S. Hut dengan bagian materi berjudul ‘’Langkah Ideal dalam Menghadapi Laju Perkembangan Ekonomi di Tahun yang Akan Datang."
Setelah seminar berakhir para peserta dan para anggota UKM yang berhadir diberi bibit dan dilakukan penanaman oleh setiap perwakilan, acara ditutup oleh Irsayad Yusma selaku Ketua Pema.

Penulis:Erfando Prasetya Sembiring (Ruot B. RDA)
Editor: Putri Armenia Urelia (Mrende RBS)


Kamis, 16 Februari 2023

EXPERIENCE: ENJOYS NATURE

 Indahnya Sungai Pante di desa Kwala, Kabupaten Langkat


Saya Jhon Ganda Mariahdo Purba, dengan nama lapangan Siatur Cbol. Sudah lama sekali saya tidak pernah main ke alam. Padahal, segala hal tentang alam selalu memberikan kesenangan tersendiri didalamnya. Mungkin padatnya jadwal kuliah serta banyaknya tuntutan kehidupan membuat saya lupa untuk sesekali menikmati ciptaan Tuhan yang ada di Indonesia, terkususnya di Sumatera Utara. Kabupaten Langkat merupakan salah satu kabupaten yang ada di Sumatera Utara. Keindahan alam yang ada disana tak perlu diragukan lagi, mulai dari Taman Nasionl Gunung Leuser, kolam renang abadi atau pelaruga, tangkahan dan masih banyak potensi wisata yang ada di daerah tersebut. 

Dari sekian banyak daerah wisata yang saya sebutkan tadi, pada kesempatan kali ini kami mengujungi sungai yang sangat jernih dan sejuk. Sungai pante, begitu orang-orang di desa menyebutnya. Kami berangkat pada hari selasa 03 Mei 2022 dengan menggunakan sepeda motor dari kontrakan kami yang berada di Medan. Jarak tempuh yang memakan waktu 2 jam tidak menyurutkan langkah kami untuk pergi kesana. Sesampaimya disana riuh aliran sungai bersiul seolah memanggil kami dari kejauhan. Air sungai yang jernih serta arusnya yang tidak terlalu deras memberikan kenyamanan saat berenang di dalamnya.

Momen yang paling saya nikmati dari liburan kali ini adalah ketika kami lompat dari ketinggian kearah sungai yang dalam. Sensasi yang memacu adrenalin membuat kami ketagihan untuk mencoba berulang-ulang. Sejauh mata memandang, hamparan hutan yang hijau di sekitar sungai seolah merayu kami untuk tidak beranjak dari tempat ini. Setelah selesai melepas penat dengan berenang, kamipun memutuskan untuk menyudahi liburan kami disana. Waktu yang seolah cepat berlalu memaksa kami meninggalkan tempat ini. Untuk tetap menjaga alam dan keindahan sungainya, tidak lupa kami membawa pulang sampah yang kami bawa kesana. Dengan tidak membuang sampah di sungai, kita sudah turut berperan dalam pelestarian alam. Saya tidak menyangka liburan sesederhana ini memberikan momen yang sulit untuk dilupakan. Sampai jumpa di liburan selanjutnya. Lestari!!


Penulis : Jhon Ganda Mariahdo Purba (Siatur Cbol RDA)

Editor: Putri Armenia Urelia (Mrende RBS)





Rabu, 15 Februari 2023

WILDLIFE AND HUMAN

 KONFLIK ANTARA SATWA LIAR DAN MANUSIA

Menurut UU No. 5 Tahun 1990, Satwa liar adalah semua binatang yang hidup di darat, dan/atau di air, dan/atau di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar, baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia. Seperti yang kita ketahui, saat ini banyak satwa liar yang terancam punah dikarenakan maraknya perburuan dan ekspoitasi hewan liar yang semena-mena. Tetapi dibalik itu semua, sudah banyak gerakan pencegahan yang dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah kepunahan satwa liar yang ada di alam bebas. Salah satu langkah pemerintah adalah pembuatan suaka marga satwa. Suaka marga satwa merupakan suatu kawasan yang digunakan untuk melindungi satwa-satwa yang terancam punah. 

Salah satu faktor yang mempengaruhi keanekaragaman satwa liar adalah habitat dari satwa liar tersebut. Ketersediaan habitat yang aman sangat dibutuhkan oleh satwa liar agar dapat hidup dengan nyaman. Kegiatan manusia yang membabat habis hutan yang dimana hutan tersebut merupakan habitat satwa liar dapat menyebabkan satwa liar mencari tempat tinggal yang baru. Hal tersebut menyebabkan konflik antara manusia dan satwa liar. Konflik antara manusia dan satwa liar merupakan salah satu ancaman yang mengakibatkan menurunnya populasi beberapa jenis satwa liar. Konflik melibatkan perebutan sumberdaya yang terbatas oleh manusia dan satwa liar pada suatu daerah yang menyebabkan kerugian bagi satwa liar atau manusia tersebut. 

Di Sumatera, salah satu kawasan yang pernah mengalami konflik adalah kawasan Resort Sei Lepan yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser dan dahulunya merupakan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Pada saat terjadi konflik, gajah masuk dan merusak ladang karet dan sawit masyarakat pada malam hari. Konflik juga pernah terjadi di kecamatan Kepenuhan Kabupaten Rokan Hulu dan Kecamatan Peranap Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Dilaporkan gajah masuk ke dalam area perkebunan warga dan merusak pemukiman warga. Hal tersebut membuat kerugian yang besar bagi warga yang mempunyai perkebunan. 

Konflik antara manusia dengan satwa liar cenderung meningkat akhir-akhir ini. Apapun yang terjadi dan jenis satwaliar apapun yang terlibat, konflik manusia dan satwa liar merupakan permasalahan kompleks karena bukan hanya berhubungan dengan keselamatan manusia tetapi juga satwa itu sendiri. Rusaknya habitat alami satwa liar sering juga disebabkan oleh aktivitas manusia yang tamak menjadikan hutan sebagai lahan pertanian untuk kepentingan ekonomi. Pembukaan lahan hutan untuk kepentingan pembangunan demi peningkatan taraf kehidupan manusia telah menyebabkan populasi satwaliar yang semula berada di habitatnya atau hutan menjadi terpisah-pisah untuk mencari dan menempati habitat yang tersisa. Habitat yang tersisa ini biasanya berupa hutan dengan luasan yang relatif kecil dengan kondisi pakan yang tidak mendukung.

Semakin tinggi aktifitas manusia di sekitar kawasan hutan maka semakin meningkatnya laju kerusakan hutan yang menyebabkan habitat satwaliar menjadi sempit dan memaksa satwaliar untuk mencari ruang gerak baru sehingga sampai kepemukiman penduduk dan mengakibatkan konflik antara masyarakat dan satwa liar. Penurunan kualitas habitat satwa liar pada umumnya disebabkan oleh semakin menurunnya luasan areal hutan dan telah terfragmentasinya habitat satwaliar dan penggunaan lahan yang tidak didasarkan pada keutuhan ekosistem hutan. Penurunan kualitas habitat sampai saat ini masih terus berlangsung yang ditandai dengan semakin meningkatnya penebangan liar (illegal logging), perambahan hutan, konversi lahan hutan menjadi penggunaan areal-areal lain (seperti lahan pertanian dan perkebunan). 

Faktor lain yang menyebabkan terjadinya konflik antara masyarakat dengan satwa liar juga disebabkan karena monyet ekor panjang dan babi hutan menemukan sumber pakan baru yang dekat dengan daerah yang dijelajahnya sehingga satwa liar tersebut cenderung bertahan di tempat yang banyak sumber pakannya. Selain itu monyet ekor panjang dan babi hutan menyukai daerah dataran rendah yang daerah tersebut banyak areal pertaniannya sehingga sumber pakannya lebih banyak. Hal ini sesuai dengan pernyataan Febriani (2009), yang menyatakan bahwa satwaliar (gajah) lebih menyukai hutan dataran rendah yang kini telah beralih fungsi menjadi lahan pertanian karena saat ini hutan dataran rendah telah dikonversi masyarakat untuk dijadikan lahan pertanian yang menyediakan sumber pakan yang lebih banyak.

Upaya yang dilakukan pemerintah untuk mencegah terjadinya konflik satwa liar dan manusia telah dibuat. Contohnya pembuatan Barrier diprioritaskan pada lokus wilayah dengan mempertimbangkan efektifitas serta efisiensi penanganan secara lebih komprehensif berdasakan kajian dan analisis pakar, praktisi serta melalui proses koordinasi para pihak terkait. Penanganan jangka panjang dilakukan melalui pendekatan penyesuaian komoditi dengan jenis tanaman yang tidak disukai satwa liar khususnya pada wilayah rawan konflik dengan jenis tanaman seperti: jeruk nipis, jeruk lemon, pala, kemiri, dan kopi. Sebagai upaya antisipasi juga direncanakan akan dilakukan pemasangan GPS Collar pada kelompok Gajah liar yang terindikasi sering berkonflik dengan masyarakat, dalam upaya membangun sistem peringatan dini. Penanganan konflik satwa liar yang komfrehensif tersebut juga memiliki potensi menjadi objek daya tarik wisata berbasis edukasi dan konservasi. Saat ini Rencana pengembangan wisata alam tersebut telah diinisiasi oleh Pemkab Pidie dan Pemkab Bener Meriah.

Penulis: Rikson Silalahi (Siapor RDA)

Editor: Putri Armenia Urelia (Mrende RBS)

Selasa, 14 Februari 2023

The Role of Environmentalist Student

 Peran Mahasiswa Pecinta Alaman

Apa yang kalian ketahui tentang pecinta alam? Pasti terlintas dipikiran kalian bahwasanya pecinta alam adalah seseorang yang memiliki jiwa kepeduliaan terhadap lingkungan dan alam, dimana rasa kepeduliaan tersebut muncul karena kesadaran diri masing-masing insan sebagai makhluk ciptaan tuhan. Alam adalah tempat dimana kita dapat merasakan ketenangan dan kesejukan yang didalamnya masih terdapat keasrian. Pertanyaan penting, apakah kita sebagai umat manusia sudah menjaga alam kita dengan baik? tentu jawabannya tidak, karena dilihat dari perilaku manusia pada saat ini tidak mencerminkan rasa kepeduliannya terhadap alam. Oleh sebab itu, kita sebagai generasi gemilang yang memiliki pengetahuan tentang pentingnya menjaga alam harus memberikan ilmu yang mereka ketahui kepada orang lain, agar mereka dapat menjaga dan memperbaiki apa yang sudah dititipkan Tuhan kepada kita. 

Saat ini banyak organisasi-organisasi yang bergerak dibidang kepecintaan alam. Di Indonesia sendiri ada 2 organisasi pecinta alam yang sudah lahir sejak tahun 1964. Wanadri merupakan organisasi tertuatepatnya pada 16 Mei 1964 yang didirikan di Bandung, sedangkan MAPALA Sastra Universitas Indonesia lahir pada 12 Desember 1964 yang didirikan di Bogor. Orrganisasi ini dibangun untuk turut membangun tanah air, bangsa dan Indonesia melalui pendidikan pemudapemudi dengan menggunakan alam bebas sebagai sarana pendidikan.

Tahukah kalian kode etik pecinta alam? Kode etik pecinta alam yang saat ini berlaku adalah mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa, memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai batas kebutuhannya, mengabdi kepada bangsa dan tanah air dan menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitarnya serta menghargai manusia sesuai martabatnya. 

Kode etik pecinta alam Indonesia pertama kali dicetuskan pada bulan Januari tahun 1974, melalui sebuah kegiatan yang bernama Gladian Nasiona Pecinta Alam IV. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Pulau Kahyangan dan Tana Toraja, oleh Badan Kerjasama Club Antarmaja pecinta alam se-Ujung Pandang dan diikuti sebanyak 44 perhimpunan pecinta alam se Indonesia. Gladian Nasional Pecinta Alam meerupakan suatu pertemuan akbar yang diikuti oleh para pecinta alam se-Indonesia. Gladian Nasional Pecinta Alam bertujuan sebagai ajamg bertukar pikiran, pengetahuan, pendapat dan kemampuan dalam bidang kepecintaan alam dan kegiatan alam bebas. Selain itu, Gladian Nasional Pecinta Alam juga berperan sebagai media silaturahmi antar perkumpulan pecinta alam se-Indonesia.

Salah satu himpunan pecinta alam yang sering dikenal dengan sebutan MAPALA, yaitu singkatan dari Mahasiswa Pecinta Alam. Diasumsikan, knowledge yang dibangun oleh anggota Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam adalah tentang diri manusia yang utuh yang memerlukan manusia lain dalam kehidupan. Hingga kemudian, dapat terbentuklah sebuah interaksi sosial yang mengusung nilai dan norma antar sesame anggota. Dalam berinteraksi organisasi ini memiliki sebuah simbol-simbol yang mempunyai makna yang digunakan sebagai sebagai sebuah alat untuk berinteraksi dan tentunya simbol-simbol tersebut hanya diketahui oleh komuitasnya. 

Berbagai komunitas pecinta alam yang mulai menjamur keberadaannya merupakan suatukelompok yang terbentuk atas dasar kesamaan hobi dan memiliki tujuan tertentu. Dalam menunjukan identitasnya pada masyarakat, umumnya suatu organisasi pecinta alam akan mengenakan suatu atribut-atribut dan perlengkapanperlengkapan tertentu ketika mereka berkegiatan yang akan membedakan mereka dengan komunitas yang hanya mengaku sebagai pecinta alam atau komunitas pendaki atau penikmat alam. Atribut-atribut yang dikenakan suatu komunitas menjadi suatu simbol non verbal yang merepresentasikan bahwa komunitas itu berasal dari suatu komunitas tertentu.

Pecinta alam memang sebuah ajang penyaluran hobi dan pengisi waktu luang bagi sejumlah orang yang memiliki kecintaan pada kegiatan yang bertempat di alam bebas seperti mendaki gunung, arung jeram, penghijauan hutan atau kegiatan alam yang lainnya. Namun, menjadi pencinta alam harus memiiki modal besar diantaranya kesehatan fisik, karena hal tersebut dapat menunjang kegiatan selama pendakian gunung, yang kedua adalah mental yang kuat, seorang pecinta alam apabila tidak memiliki mental yang kuat maka akan menghindari tantangan yang terjadi saat pendakian, dan yang terakhir adalah keterampilan, selain sehat dan memiliki mental yang kuat seorang pecinta alam dituntut untuk terampil dalam kegiatan pendakian, agar dapat membantu seorang pecinta alam bertahan hidup di alam luar. 

Dalam Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara terdapat sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa yang bergerak dibidang kepecintaan alam yakni RIMBAPALA singkatan dari Rimbawan Pecinta Alam. Rimbapala sendiri memiliki kegiatan yang berdasarkan ilmu-ilmu konservasi. Rimbapala dibentuk pada hari Minggu, 23 September 2012 di Air Terjun Sikulikap, Desa Doulu, Kecamatan Dolat Rakyat, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara. Rimbapala berazaskan pada Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan Kode Etik Pecinta Alam. Rimbapala memiliki sebuah visi, yakni terbentuknya mahasiswa/i Fakultas Kehutanan USU berjiwa konservasi dan mencintai alam serta memiliki mental lapangan yang kuat sehingga nantinya anggota Rimbapala merupakan orang-orang yang memperjuangkan kelestarian alam Indonesia. 

Proses perekrutan untuk menjadi anggota Rimbapala salah satunya adalah Pendidkan Dasar (Diksar). Ada yang menggunakan sistem magang dan sistem pendidikan dasar sebagai peserta kegiatan. Inti dari sebuah diksar adalah membentuk mental dan fisik yang kuat sesuai dengan azas pecinta alam. Alam sebagai media utama diksar merupakan instrumen yang tidak boleh hilang dari segala proses yang ada. Pada saat sedang mengikuti proses pendidikan dasar calon anggota hanya disuguhkan dengan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Selain itu, calon anggota diberikan materi – materi tanpa bisa memperbaharui sistem yang telah ada. Sistem pendidikan telah ditentukan oleh para senior dan panitia penerimaan anggota sehingga hal ini sangat membatasi ruang gerak para calon anggota untuk berpikir kritis.

Setelah melalui proses Diklatsar maka calon anggota sudah dinyatakan menjadi anggota muda Rimbapala dan diberi sebuah mitela yang merupakan sebuah simbolis keanggotaan. Anggota Rimbapala terdiri dari Anggota Muda (AM), Anggota Biasa (AB), Anggota Luar Biasa (ALB dan Anggota kehormatan. Keanggotaan tersebut memiliki syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi. syarat-syarat tersebut terdapat pada AD/ART Rimbapala. AD/ART merupakan singkatan dari sebuah Anggaran Dasar atau Anggaran Rumah Tangga yang dijadikan sebagai pedoman ketika sudah menjadi anggota Rimbapala. Struktur Rimbapala terdiri dari Badan Pengurus Harian (BPH) serta Kepala Bidang dan Kepala Divisi. 

Saat ini Rimbapala memiliki 3 divisi yaitu gunung rimba, lingkungan hidup dan trees climbing. Ketiga divisi ini memberikan materi yang sesuai dengan divisinya. Misalnya, Divisi Gunung Rimba berkaitan dengan penjelajahan alam, pendakian gunung dan manajemen perjalanan. Divisi Trees Climbing memberikan pengetahuan tentang memanjat pohon dan bisa juga di aplikasikan untuk memanjat sebuah tebing dan lain sebagainya. Aplikasi kegiatan Trees Climbing sendiri berupa SRT (Single Rope Technic). Divisi Lingkungan Hidup yang bergerak dalam menjaga dan melestarikan lingkungan. Kegiatan-kegiatan ketiga divisi ini sangat seru untuk diikuti.

Penulis: Sephia Br Sembiring (Simantuk RDA)

Editor: Putri Armenia Urelia (Mrende RBS)

Senin, 13 Februari 2023

ENVIRONMENTALIST OPINION: MITELA

 PENTINGNYA MITELA BAGI MAHASISWA PECINTA ALAM 


Mitela merupakan kain segitiga yang berukuran 1×1,5 m, bisa lebih besar atau kecil dan disudutnya terdapat logo atau lambang organisasi yang bersangkutan. Warnanya pun bisa  beragam, tergantung pilihan suatu organisasi yang akan memakainya Mitela merupakan atribut yang tidak asing lagi bagi anggota organisasi pecinta alam. Sebab, benda ini yang selalu menemani dan melekat pada diri khususnya pada saat melaksanakan kegiatannya. Bahkan, sudah menjadi aturan agar atribut ini dipakai pada saat ada acara atau kegiatan penting, serta tidak diperbolehkan memakainya diluar kegiatan. Bagi seorang pecinta alam Mitela mempunyai arti dan nilai penting serta harga yang tidak bisa diukur dengan uang dan materi atau dengan apapun. Karena untuk memperolehnya membutuhkan pengorbanan dan perjuangan keras yang menguras tenaga, fikiran, mental.serta bercucuran air mata.

Mungkin sebagian besar orang mengira bahwasannya mitela itu hanyalah sebagai identitas biasa, Mereka mengira Mitela ini bisa didapatkan dengan mudah dimana saja. Karena hanya dengan bermodalkan uang yang sedikit jumlahnya saja sudah bisa didapatkan tanpa harus menguras tenaga dan fikiran. Tetapi hal itu tentu saja sangat jauh berbeda nilainya dengan mendapatkannya melalui pengorbanan dan perjuangan keras. Karena, yang menjadi tolak ukur bernilai tidaknya sesuatu, dilihat dari seberapa besar perjuangan dan pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu itu.

Semurah apapun harga kain di pasar, Mitela merupakan harga diri dari seorang Mapala dan setiap bagian dari organisasi pecinta alam, harus menyadari bahwa bukan itu yang menjadi tujuan utama atau ingin didapatkan ketika telah menjadi bagian dari organisasi. Ketika mapala mencari kader kader baru sebagai penerus, ketika melakukan pengkaderisasian/DIKLATSAR, mereka menekankan kepada kader-kadernya agar Mitela ini dijaga dan disimpan dengan baik, serta melarang ditempatkan di sembarang tempat, terutama di anggota badan bagian bawah. Mitela  ini, dianggap sebagai mahkota raja yang harus ditinggikan, dijaga dan disucikan. 

Mitela lebih dari sekedar penghargaan yang dijadikan sebagai tanda seseorang telah resmi atau lulus menempuh proses Pendidikan dan Latihan Dasar (DIKLATSAR), selama beberapa hari atau minggu, bahkan bulan. Mitela juga merupakan atribut dan dipakai pada saat menghadiri atau melakuakan acara-acara atau kegiatan-kegiatan yang dianggap penting. Yang harus diutamakan anggota organisasi pecinta alam untuk dijaga, ditinggikan dan disucikan.

Inilah tujuan dasar pelaksanaan Diklatsar bagi calon anggota organisasi pecinta alam. Diberikan bimbingan dan pedidikan jasmani maupun rohani, serta melatih ketahanan fisik dan mentalnya. Dengan demikian, melalui bimbingan, pendidikan dan pelatihan tersebut, diharapkan bisa melahirkan sosok-sosok pecinta alam yamg memiliki sikap relegius tinggi dan tangguh dalam menjaga dan melestarikan alam ini. Ini akan menjadi contoh yang baik di lingkungan masyarakat, khusunya di lingkungan sesama pecinta alam.


Penulis: Heti Nolara (Malican RDA)

Editor: Putri Armenia Urelia (Mrende RBS)

As a Environmentalist Student

 Sebagai Seorang Mahasiswa Pecinta Alam

Dewasa ini kepecintaalaman menjadi topik yang sangat menarik untuk dibahas. Kepecintaalaman terdiri dari dua kata yaitu cinta dan alam. Cinta berarti kasih sayang yang diberikan terhadap seseorang atau sesuatu sedangkan alam merupakan ciptaan Tuhan yang diberikan kepada kita manusia. Jika kita simpulkan kepecintalaman adalah rasa sayang yang diberikan kepada alam oleh manusia. Dimana pecinta alam rela memberikan waktu, tenaga dan usaha dalam mengelola alam. Kepecintaalaman ini memiliki banyak jenis yang terdiri dari Sispala (Siswa pecinta alam), Mapala (Mahasiswa pecinta alam) dan KPA (Komunitas Pecinta Alam). Biasanya pecinta alam ini bergerak dalam satu-satu kelompok dan memiliki kegiatan tertentu dalam mengelola alam. 

Di Indonesia sudah banyak kegiatan pecinta alam yang menyumbang kontribusi bagi alam. Umumnya kegiatan Mapala berkisar di alam terbuka dan menyangkut lingkungan hidup. Jenis aktifitasnya meliputi pendakian gunung (mountaineering), pemanjatan (climbing), penelusuran gua (caving), pengarungan arus liar (rafting), penghijauan, dan lain sebagainya. Selain mendapat pengalaman berharga, kita juga dapat menjaga alam kita dalam hal ini kegiatan penghijauan dan juga kegiatan penanaman pohon. Biasanya kegiatan penanaman pohon menjadi kegiatan yang umum dilakukan oleh para pecinta alam. Semakin banyak pohon sehat yang tumbuh maka bumi kita akan semakin rindang. 

Pecinta alam dituntut untuk dapat berpikir jernih dalam kondisi yang tertekan. Pecinta alam berpedoman oleh STOP (Sit, Thinking, Observation and Planning). Biasanya hal ini sering sekali diterapkan saat kita berkegiatan di alam yang didapatkan pada materi survival. STOP ini sangat tepat digunakan saat kita sedang tersesat dimana kita membutuhkan ketenangan untuk mengambil keputusan Sit sesuai dengan artinya yaitu duduk. Ketika sudah mulai kebingungan ada baiknya kita duduk dahulu untuk menenangkan diri kita. Saat sudah mulai tenang kita masuk ke tahap thinking yaitu mulai berpikir arah mana yang sudah kita lalui. Setelah itu observation dimana kita harus mengobservasi atau mengamati sekitaran kita yang sekiranya dapat membantu kita dalam mengenali sekitar. Lalu saat sudah mendapat gambaran kita masuk kedalam tahap planning. Sebelum mulai melanjut kegiatan kita, ada baiknya kita segera merencanakan perjalanan agar dapat berjalan lancar dan tidak mengulangi kegiatan yang sama. 

Dalam melakukan sesuatu pecinta alam harus bergerak dibawah kode etik pecinta alam. Pecinta alam yang baik tidak melakukan sesuatu yang bersifat melenceng dari kode etik tersebut. Kode etik ini menjadi landasan bagi para pecinta alam dalam melakukan kegiatan yang tentunya berhubungan dengan alam. Semua yang tertera pada kode etik tersebut haruslah diamalkan sehingga pecinta alam ini dapat berjalan sesuai dengan tujuan terbentuknya. 

Untuk menjadi seorang pecinta alam diberikan pelatihan yang keras yang bertujuan membentuk perilaku yang keras dan berkarakter kuat. Hal ini sangat diperlukan bagi para pecinta alam Tujuan lainnya dalam pelatihan ini adalah agar para pecinta alam memiliki jiwa yang tangguh dan fisik yang kuat. Kekuatan fisik merupakan hal yang terpenting dalam kepecintaalaman ini. Fisik yang kuat dangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan alam khususnya saat akan melakukan kegiatan di alam terbuka. Untuk menjaga alam kita maka kita juga harus memiliki kekuatan fisik yang siap dalam kondisi apapun. 

Ada pepatah mengatakan ‘Take nothing, but pictures’, yang berarti jangan mengambil sesuatu kecuali gambar di alam. Sesuai dengan namanya pecinta alam bergerak di alam. Banyak kegiatan yang dapat dilakukan seperti mendaki gunung, susur goa, susur sungai, rapling dan masih banyak lagi. Jika kita mencintai alam maka sudah sepatutnya kita menjaga alam kita agar tetap lestari. Kita dapat mengabadikan momen yang kita dapatkan di alam melalui gambar sebagai kenangan akan alam. Gambar yang kita ambil dapat menjadi motivasi bagi diri sendiri untuk terus mengelola alam karena keindahannya yang tergambarkan melalui gambar tersebut. Jangan mengambil hal yang tidak perlu seperti vegetasi alam yang berada di alam itu sendiri, dalam hal ini yang dapat menyebabkan kerusakan pada alam. 

Membahas tentang alam maka kita tidak jauh dari flora dan juga fauna. Dewasa ini fauna menjadi salah satu hal yang disoroti karena adanya konflik satwa liar. Konflik ini sudah ada sejak dahulu baik itu konflik satwa liar dengan satwa lard an konflik anatara manusia dan satwa liar. Biasanya konflik anatar satwa liar dengan manusia dapat terjadi didaerah pemukiman warga yang dekat dengan hutan alias habitat satwa liar. Salah satu satwa liar yang pernah memiliki konflik dengan manusia adalah harimau. Pecinta alam juga dapat berkontribusi dalam meredakan konflik satwa liar dengan manusia dapat dalam hal ini dapat melalui sosialisasi kepada masyrakat. Sosialisasi ini sangat dibutuhkan masyarakat khususnya untuk mengetahui apa yang akan dilakukan ketika satwa liar mulai memasuki daerah pemukiman warga. 

Selain konflik satwa liar, sampah juga menjadi perhatian dari para pecinta alam. Indonesia menjadi salah satu negara dengan sampah plastik terbanyak di dunia. Tidak jarang ditemui sampah berada di selokan, sungai, gunung dan juga laut atau pantai. Hal ini menjadi perhatian para pecinta alam dan juga pemerintah. Salah satu kontribusi pecinta alam dalam mengurangi sampah plastik adalah dengan melakukan banyak kreatifitas. Kreatifitas menjadi salah satu hal yang biasanya oragnisasi kepecintalaman lakukan. Bentuk lain dari kontribusi pecinta alam dalam meminimalisir sampah plastik adalah dengan melakukan kegiatan pendakian gunung dibarengi dengan mengumpulkan sampah. 

Jika membahas tentang pecinta alam yang mana didalamnya termasuk mapala maka Rimbapala merupakan salah astu bentuknya. Rimbapala Kehutanan USU merupakan rimbawan pecinta alam yang berada di Fakultas Kehutanan, USU. Organisasi ini berdiri pada tanggal 23 September 2012 yang didirikan oleh dua orang mahasiswa kehutanan. Rimbapala merupakan wadah bagi mahasiswa kehutanan USU untuk mengabdirikan dirinya kepada alam baik itu dalam bentuk konservasi alam. Rimbapala memiliki GOR (Garden of Rimbapala) sebagai tempat para anggota dapat berkumpul dan melalukan kegiatan yang sudah dijadwalkan. Tidak sekedar kegiatan resmi untuk sekedar bertemu dan bercengkrama juga sering dilakukan oleh para anggota di GOR. 

Organisasi ini bergerak di bidang kepecintaalaman dan memiliki tiga divisi yaitu gunung rimba, trees climbing dan lingkungan hidup. Ketiga divisi ini sama-sama memiliki tujuan dan manfaat yang sangat berguna bagi para anggotanya. Gunung rimba merupakan divisi yang berfokus pada kegiatan alam seperti pendakian. Di dalamnya juga diajari tentang manajemen perjalanan dan pertolongan pertama gawat darurat. Trees climbing merupakan divisi yang juga berfokus pada kegiatan yang berhubungan dengan tali-temali seperti kegiatan rapling. Rimbapala sering melakukan kegiatan tersebut untuk mengasah kemampuan para anggota. Lingkungan hidup seperti namanya merupakan divisi yang berfokus pada kesehatan lingkungan. Para anggota diajar untuk dapat membantu melestarikan lingkungan sehingga lingkungan juga dapat memberikan yang terbaik bagi kita manusia. Rimbapala sebagai pecinta alam memberikan kontribusi yang terbaik bagi alam karena sudah sepatutnya untuk manusia dan alam saling menolong demi keberlangsungan kehidupan.

Penulis: Elsa Pandiangan (Talas RDA)

Editor: Putri Armenia Urelia (Mrende RBS)