Peran Mahasiswa Pecinta Alaman
Apa yang kalian ketahui tentang pecinta alam? Pasti terlintas dipikiran
kalian bahwasanya pecinta alam adalah seseorang yang memiliki jiwa kepeduliaan
terhadap lingkungan dan alam, dimana rasa kepeduliaan tersebut muncul karena
kesadaran diri masing-masing insan sebagai makhluk ciptaan tuhan. Alam adalah
tempat dimana kita dapat merasakan ketenangan dan kesejukan yang didalamnya
masih terdapat keasrian. Pertanyaan penting, apakah kita sebagai umat manusia
sudah menjaga alam kita dengan baik? tentu jawabannya tidak, karena dilihat dari
perilaku manusia pada saat ini tidak mencerminkan rasa kepeduliannya terhadap
alam. Oleh sebab itu, kita sebagai generasi gemilang yang memiliki pengetahuan
tentang pentingnya menjaga alam harus memberikan ilmu yang mereka ketahui
kepada orang lain, agar mereka dapat menjaga dan memperbaiki apa yang sudah
dititipkan Tuhan kepada kita.
Saat ini banyak organisasi-organisasi yang bergerak dibidang kepecintaan
alam. Di Indonesia sendiri ada 2 organisasi pecinta alam yang sudah lahir sejak
tahun 1964. Wanadri merupakan organisasi tertuatepatnya pada 16 Mei 1964 yang
didirikan di Bandung, sedangkan MAPALA Sastra Universitas Indonesia lahir
pada 12 Desember 1964 yang didirikan di Bogor. Orrganisasi ini dibangun untuk
turut membangun tanah air, bangsa dan Indonesia melalui pendidikan pemudapemudi dengan menggunakan alam bebas sebagai sarana pendidikan.
Tahukah kalian kode etik pecinta alam? Kode etik pecinta alam yang saat
ini berlaku adalah mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa, memelihara alam
beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai batas kebutuhannya,
mengabdi kepada bangsa dan tanah air dan menghormati tata kehidupan yang
berlaku pada masyarakat sekitarnya serta menghargai manusia sesuai
martabatnya.
Kode etik pecinta alam Indonesia pertama kali dicetuskan pada bulan
Januari tahun 1974, melalui sebuah kegiatan yang bernama Gladian Nasiona
Pecinta Alam IV. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Pulau Kahyangan dan Tana
Toraja, oleh Badan Kerjasama Club Antarmaja pecinta alam se-Ujung Pandang
dan diikuti sebanyak 44 perhimpunan pecinta alam se Indonesia. Gladian Nasional
Pecinta Alam meerupakan suatu pertemuan akbar yang diikuti oleh para pecinta
alam se-Indonesia. Gladian Nasional Pecinta Alam bertujuan sebagai ajamg
bertukar pikiran, pengetahuan, pendapat dan kemampuan dalam bidang
kepecintaan alam dan kegiatan alam bebas. Selain itu, Gladian Nasional Pecinta
Alam juga berperan sebagai media silaturahmi antar perkumpulan pecinta alam
se-Indonesia.
Salah satu himpunan pecinta alam yang sering dikenal dengan sebutan
MAPALA, yaitu singkatan dari Mahasiswa Pecinta Alam. Diasumsikan,
knowledge yang dibangun oleh anggota Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam
adalah tentang diri manusia yang utuh yang memerlukan manusia lain dalam
kehidupan. Hingga kemudian, dapat terbentuklah sebuah interaksi sosial yang
mengusung nilai dan norma antar sesame anggota. Dalam berinteraksi organisasi
ini memiliki sebuah simbol-simbol yang mempunyai makna yang digunakan
sebagai sebagai sebuah alat untuk berinteraksi dan tentunya simbol-simbol
tersebut hanya diketahui oleh komuitasnya.
Berbagai komunitas pecinta alam yang mulai menjamur keberadaannya
merupakan suatukelompok yang terbentuk atas dasar kesamaan hobi dan memiliki
tujuan tertentu. Dalam menunjukan identitasnya pada masyarakat, umumnya suatu
organisasi pecinta alam akan mengenakan suatu atribut-atribut dan perlengkapanperlengkapan tertentu ketika mereka berkegiatan yang akan membedakan mereka
dengan komunitas yang hanya mengaku sebagai pecinta alam atau komunitas
pendaki atau penikmat alam. Atribut-atribut yang dikenakan suatu komunitas
menjadi suatu simbol non verbal yang merepresentasikan bahwa komunitas itu
berasal dari suatu komunitas tertentu.
Pecinta alam memang sebuah ajang penyaluran hobi dan pengisi waktu
luang bagi sejumlah orang yang memiliki kecintaan pada kegiatan yang bertempat
di alam bebas seperti mendaki gunung, arung jeram, penghijauan hutan atau
kegiatan alam yang lainnya. Namun, menjadi pencinta alam harus memiiki modal
besar diantaranya kesehatan fisik, karena hal tersebut dapat menunjang kegiatan
selama pendakian gunung, yang kedua adalah mental yang kuat, seorang pecinta
alam apabila tidak memiliki mental yang kuat maka akan menghindari tantangan
yang terjadi saat pendakian, dan yang terakhir adalah keterampilan, selain sehat
dan memiliki mental yang kuat seorang pecinta alam dituntut untuk terampil
dalam kegiatan pendakian, agar dapat membantu seorang pecinta alam bertahan
hidup di alam luar.
Dalam Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara terdapat sebuah
Unit Kegiatan Mahasiswa yang bergerak dibidang kepecintaan alam yakni
RIMBAPALA singkatan dari Rimbawan Pecinta Alam. Rimbapala sendiri
memiliki kegiatan yang berdasarkan ilmu-ilmu konservasi. Rimbapala dibentuk pada hari Minggu, 23 September 2012 di Air Terjun Sikulikap, Desa
Doulu, Kecamatan Dolat Rakyat, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara.
Rimbapala berazaskan pada Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan Kode
Etik Pecinta Alam. Rimbapala memiliki sebuah visi, yakni terbentuknya
mahasiswa/i Fakultas Kehutanan USU berjiwa konservasi dan mencintai alam serta
memiliki mental lapangan yang kuat sehingga nantinya anggota Rimbapala
merupakan orang-orang yang memperjuangkan kelestarian alam Indonesia.
Proses perekrutan untuk menjadi anggota Rimbapala salah satunya adalah
Pendidkan Dasar (Diksar). Ada yang menggunakan sistem magang dan sistem
pendidikan dasar sebagai peserta kegiatan. Inti dari sebuah diksar adalah
membentuk mental dan fisik yang kuat sesuai dengan azas pecinta alam. Alam
sebagai media utama diksar merupakan instrumen yang tidak boleh hilang dari
segala proses yang ada. Pada saat sedang mengikuti proses pendidikan dasar calon anggota hanya
disuguhkan dengan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.
Selain itu, calon anggota diberikan materi – materi tanpa bisa memperbaharui
sistem yang telah ada. Sistem pendidikan telah ditentukan oleh para senior dan
panitia penerimaan anggota sehingga hal ini sangat membatasi ruang gerak para
calon anggota untuk berpikir kritis.
Setelah melalui proses Diklatsar maka calon anggota sudah dinyatakan
menjadi anggota muda Rimbapala dan diberi sebuah mitela yang merupakan
sebuah simbolis keanggotaan. Anggota Rimbapala terdiri dari Anggota Muda
(AM), Anggota Biasa (AB), Anggota Luar Biasa (ALB dan Anggota kehormatan.
Keanggotaan tersebut memiliki syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi. syarat-syarat tersebut terdapat pada AD/ART Rimbapala. AD/ART merupakan singkatan
dari sebuah Anggaran Dasar atau Anggaran Rumah Tangga yang dijadikan
sebagai pedoman ketika sudah menjadi anggota Rimbapala. Struktur Rimbapala
terdiri dari Badan Pengurus Harian (BPH) serta Kepala Bidang dan Kepala Divisi.
Saat ini Rimbapala memiliki 3 divisi yaitu gunung rimba, lingkungan
hidup dan trees climbing. Ketiga divisi ini memberikan materi yang sesuai dengan
divisinya. Misalnya, Divisi Gunung Rimba berkaitan dengan penjelajahan alam,
pendakian gunung dan manajemen perjalanan. Divisi Trees Climbing memberikan
pengetahuan tentang memanjat pohon dan bisa juga di aplikasikan untuk
memanjat sebuah tebing dan lain sebagainya. Aplikasi kegiatan Trees Climbing
sendiri berupa SRT (Single Rope Technic). Divisi Lingkungan Hidup yang
bergerak dalam menjaga dan melestarikan lingkungan. Kegiatan-kegiatan ketiga
divisi ini sangat seru untuk diikuti.
Penulis: Sephia Br Sembiring (Simantuk RDA)
Editor: Putri Armenia Urelia (Mrende RBS)